How to deal with uncertainty and risk?

Beberapa waktu lalu saya pernah berbincang dengan seorang teman laman via YM., sebut saja namanya Abu. Sebenarnya isi obrolan ini pernah dicurahkan pada sebuah tulisan di sebuah forum, saya akan mencoba mengulasnya dari sisi Saya pribadi.
Obrolan ini berawal dari tulisan-tulisan saya yang saya posting di sebuah forum. Dia mengatakan “Awak rasa, akan banyak orang yang terbantu tapi sekaligus tersakiti ketika anda mengeluarkan sebuah analisa?”. Saya tanya “Kenapa begitu? Saya khan memberikan analisa apa adanya, kalau naik saya bilang naik, kalau turun saya bilang turun, ada yang salah?”.
“Kalau orang yang membaca memiliki pikiran searah dengan anda, tentu saja tidak ada masalah, tapi yang punya pemikiran sebaliknya justru akan bermasalah, walaupun apa yang anda tulis itu benar, misalnya anda pernah menulis saham BUMI akan turun sampai ke bawah Rp1,500.- padahal harga saat itu masih di Rp2,200.- Rp 2,400.- kalau Saya yang membaca saya pasti akan secepatnya keluar dari BUMI dan menunggu dii harga lebih rendah lagi untuk melakukan buy back. Tapi sayangnya tidak semua orang seperti Saya, investor Saya memiliki BUMI dengan harga modal Rp3,200,- kalau di harga Rp2,400 anda suruh cut loss, anda bisa hitung berapa ruginya dan seperti apa perasannya?” Tanya Si Abu.
Saya waktu itu hanya bisa terdiam dan berpikir seandainya saya yang menjadi investor tersebut, pasti saya akan tetap berharap BUMI akan bergerak naik, kalau seandainya ada orang mengatakan bahwa BUMI akan turun, bisa-bisa orang tersebut saya lempar ama dompet…he..he..he..he.^.^ (Just Kidding). Yang jelas siapapun orangnya pasti tidak mau kalau diminta untuk cut loss.
Abu kembali melanjutkan ucapannya”Inilah beban terberat analis, ketika berhadapan dengan nasabah, tapi seringkali analis tidak menyadari hal ini, Jika anda menjadi bearish messenger, yang terjadi anda akan dibenci semua orang, dan anda akan gampang dilupakan orang. Tapi kalau anda menjadi bullish messenger semua orang yang membaca akan tersenyum, tapi tetap saja anda akan dilupakan juga.”
“Okay menurut anda bagimana seharusnya seorang analis bersikap terhadap kondisi yang seperti itu”? Tanya Saya.
“Simple saja, jika turun katakan dengan pelan, dan bertahap missal BUMI masih di harga Rp2,200 anda katakan BUMI akan turun ke Rp 2,000 dulu., tidak perlu anda katakana bahwa BUMI akan turun ke Rp1,500. Toh sebelum ke 1,500 pasti melewati 2,000 dulu, jika sampai di 2,000 anda melihat peluang bounce back, secepatnya katakan bahwa BUMI akan bounce ke level sekian-sekian”.Kata teman saya Abu.
Bagi saya hal tersebut sangat logis, dan sama seperti yang diajarkan guru saya, bahwa kita harus waspada terhadap tiap perubahan di market, kuncinya hanya terbiasa mengikuti ritme perubahan tersebut. Kebanyakan orang tidak peduli apakah kenaikan tersebut sebuah bounce back atau sebuah “the new bull trend”. Karena kedua-duanya berbicara harga akan naik, jadi yang harus dilakukan adalah “BUY” terlebih dahulu, sepanjang kenaikan baru kita amati gejala-gejalanya apakah berpeluang menjadi “the new bull trend” atau tidak. Ok satu masalah terselesaikan.
Baru saja saya selesai membuat kesimpulan Abu kembali nyerocos lagi”Tidak hanya analis saja yang dituntut untuk hati-hati, nasabah sebelum masuk ke market pun harus jadi Nasabah yang Fatonah, Smart dan Cerdas, memahami resiko dengan baik dan benar, bukan hanya tergiur dengan keuntungan saja. Rata-rata nasabah yang rugi, sama sekali tidak memahami dengan benar market itu seperti apa? Mereka selalu berharap bahwa market akan bergerak sesuai keinginan mereka, tapi faktanya market bergerak berlawanan arah dengan keinginan mereka, mereka beli harga turun, mereka jual harga naik. Yang terjadi adalah beli mahal , jual murah, sehingga lebih banyak meruginya.”
Dalam seminar-seminar tentang money management, saya selalu menekankan ke peserta, bahwa Market adalah market, dia akan bergerak sendiri, tidak peduli kita sedang untung atau rugi dia akan selalu bergerak, fokuslah pada uang yang anda miliki, karena dari situ anda bisa mengontrol seberapa banyak anda dapat rugi dan seberapa banyak anda dapat profit. Contoh paling sederhana misalnya Saya akan membeli BUMI di harga 2,000, Nominal kerugian yang bia saya tanggung adalah Rp1 Juta. Nah nilai 1 Juta ini relative bisa jadi 1%, jadi 10%, jadi 50% bahkan bisa jadi 100%. Nah karena nilai yang relatif ini biasanya saya mengkombinasikannya, sebagai berikut: “Saya ingin cut loss di harga 1,800 dengan nominal cut loss maksimal Rp 1 Juta”. Nah dari situ saya bisa menentukan bahwa saya harus membeli BUMI di harga 2,000 sebesar Rp 5 Juta atau sebanyak 5 lot saja. Sampai disini kita sudah melakukan langkah awal untuk “deal with risk”.
Apa yang saya kemukakan diatas adalah teknik dasar bagaimana kita bisa memahami resiko dan menyikapinya dengan bijak, jika anda sudah dapat memahaminya silahkan kombinasikan teknik diatas dengan metode yang nyaman dengan diri anda.Bagi saya di market tidak ada yang benar dan yang salah, semuanya sama saja, yang harus di hindari adalah ketika anda tidak tahu kapan harus berhenti. Istilah “berhenti” yang saya maksud disini bisa berarti berhenti dalam kondisi “loss” atau berhenti dalam kondisi “profit”. “Dimana letak remnya”, itu pertanyaan pertama yang saya lontarkan ketika saya belajar untuk menyetir mobil.

Tags:
Risk Management Trader Broker Investor Posted by
aditya at Thursday 12-05-2011 09:52 |
comments
Belum ada komentar. Jadilah komentator pertama!